Sabtu, 09 Juni 2012

DESA SIAGA


DESA SIAGA

Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri menuju desa sehat.
Pengembangan desa siaga mencakup upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa, menyiapsiagakan masyarakat menghadapi masalah-masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, serta mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan mewujudkan desa siaga akan dapat segera di wujudkan desa sehat.
Inti kegiatan desa siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat. Oleh karena itu maka dalam pengenbangannya diperlukan langkah-langkah pendekatan edukatif, yaitu upaya mendampingi (menfasilitasi) masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran yang berupa proses pemecahan masalah-masalah kesehatan yang di hadapinya. Untuk menuju desa siaga perlu di kaji upaya-upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang sudah ada seperti posyandu, polindes, pos obat desa, dana sehat, siap antar jaga kesehatan ibu dan anak (Siaga KIA) dan lain-lain sebagai embrio atau titik awal sebagai pengembangan menuju desa siaga. Dengan demikian, mengubah desa menjadi desa siaga akan lebih cepat bila di desa tersebut telah ada berbagai UKBM. Pengembangan desa siaga juga merupakan revitalisasi pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD) sebagai pendekatan edukatif yang perlu di hidupkan kembali, dipertahankan dan ditingkatkan.
Desa siaga juga dapat merupakan pengembangan dari konsep siap antar jaga (SIAGA), desa siap antar jaga dapat dilengkapi komponen-komponen untuk menjadi desa siaga, yaitu dengan dikembangkannya pelayanan kesehatan dasar dan UKBM, di kembangkannya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dikalangan masyarakat, diciptakannya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kegawatdaruratan dan bencana, dikembangkannya surveilans penyakit, serta diciptakannya system pembiayaan kesehatan yang berbasis masyarakat.

TUJUAN DESA SIAGA

Tujuan umum Terwujudnya masyarakat desa yang sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.
Tujuan khususMeningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawatdaruratan, dan sebagainya).Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.Meningkatnya kemandirian masyarakat desa dalam pembiayaan kesehatan. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.Meningkatnya dukungan dan peran aktif para pemangku kepentingan dalam mewujudkan kesehatan masyarakat desa.

SASARAN PENGEMBANGAN DESA SIAGA

Untuk mempermudah strategi intervensi, sasaran pengembangan desa siaga dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:Semua individu dan keluarga di desa, yang di harapkan mampu melaksanakan hidup sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.Pihak-pihak yang yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan dan pemuda, kader desa, serta petugas kesehatan.Pihak-pihak yang di harapkan memberikan dukungan kebijakan , peraturan perundangan, dana, tenaga,sarana , dan lain-lain. Seperti kepala desa, camat, para pejabat terkait, swasta, para donatur, dan pemangku kepentingan lainnya.

KRITERIA DESA SIAGA

Sesuai dengan pengertian desa siaga, maka kriteria lengkap desa siaga terdiri dari 8 Indikator, yang antara lain :Adanya Forum Masyarakat Desa.Memiliki sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi yang tidak memiliki akses ke puskesmas / pustu, dapat dikembangkannya Pos Kesehatan Desa (POSKESDES).Adanya UKBM yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (posyandu, warung obat desa, Ambulan Desa, Tabulin/Dasolin/Arlin, dan lain-lain).Memiliki system pengamatan penyakit dan factor-faktor risiko yang berbasis masyarakat (Surveilans Epidemiologi).Memiliki system kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat.Adanya Upaya dan terwujudnya lingkungan yang sehat.Adanya Upaya dan terwujudnya Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS).Adanya Upaya dan terwujudnya Keluarga sadar gizi (Kadarzi).

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN DESA SIAGA

Pengembangan Desa Siaga dilaksanakan dengan membantu/memfasilitasi masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran melalui siklus atau spiral pemecahan masalah yang terorganisasi (pengorganisasian masyarakat). Yaitu dengan menempuh tahap-tahap : mengidentifikasi masalah, penyebabnya, dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah, mendiagnosis masalah dan merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah, menetapkan alternatif pemecahan masalah yang layak, merencanakan dan melaksanakannya, serta memantau, mengevaluasi dan membina kelestarian upaya-upaya yang telah dilakukan. Meskipun di lapangan banyak variasi pelaksanaannya, namun secara garis besarnya langkah-langkah pokok yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut:

Pengembangan Tim Petugas Kecamatan (lintas program/lintas sektor)

Langkah ini merupakan awal kegiatan, sebelum kegiatan-kegiatan lainnya dilaksanakan. Tujuan langkah ini adalah mempersiapkan para petugas kesehatan yang berada di wilayah Puskesmas, baik petugas teknis maupun petugas administrasi. Persiapan para petugas ini bisa berbentuk sosialisasi, pertemuan atau pelatihan yang bersifat konsolidasi, yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Keluaran atau output dari langkah ini para petugas yang memahami tugas dan fungsinya, serta siap bekerjasama dalam satu tim untuk melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat.

Pengembangan Tim di Masyarakat (Forum Desa Siaga)

Tujuan langkah ini adalah untuk mempersiapkan para petugas, tokoh masyarakat, serta masyarakat, agar mereka tahu dan mau bekerjasama dalam satu tim untuk mengembangkan Desa Siaga. Dalam langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu kebijakan, agar mereka mau memberikan dukungan, baik berupa kebijakan atau anjuran, serta restu, maupun dana atau sumber daya lain, sehingga pengembangan Desa Siaga dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat bertujuan agar mereka memahami dan mendukung, khususnya dalam membentuk opini publik guna menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan Desa Siaga.
Jadi dukungan yang diharapkan dapat berupa dukungan moral, dukungan finansial atau dukungan material, sesuai kesepakatan dan persetujuan masyarakat dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Jika di daerah tersebut telah terbentuk wadah-wadah kegiatan masyarakat di bidang kesehatan seperti Konsil Kesehatan Kecamatan atau Badan Penyantun Puskesmas, Lembaga Pemberdayaan Desa, PKK, serta organisasi kemasyarakatan lainnya, hendaknya lembaga-lembaga ini diikutsertakan dalam setiap pertemuan dan kesepakatan.

Survei Mawas Diri (SMD)

Survei mawas diri (SMD) atau Telaah Mawas Diri (TMD) atau Community Self Survey (CSS) bertujuan agar masyarakat dengan bimbingan petugas mampu melakukan telaah mawas diri untuk desanya. Survei ini harus dilakukan oleh pemuka-pemuka masyarakat setempat dengan bimbingan tenaga kesehatan. Dengan demikian, diharapkan mereka menjadi sadar akan permasalahan yang dihadapi di desanya, serta bangkit niat dan tekad untuk mencari solusinya. Untuk itu, sebelumnya perlu dilakukan pemilihan dan pembekalan keterampilan bagi mereka. Keluaran atau output dari SMD ini berupa identifikasi masalah-masalah kesehatan serta daftar potensi di desa yang dapat didayagunakan dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut.

Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)

Tujuan penyelenggaraan musyawarah atau lokakarya desa ini adalah mencari alternatif penyelesaian masalah kesehatan hasil SMD dikaitkan dengan potensi yang dimiliki desa. Di samping itu, juga untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan Desa Siaga. Inisiatif penyelenggaraan musyawarah sebaiknya berasal dari para tokoh masyarakat yang telah sepakat mendukung pengembangan Desa Siaga. Peserta musyawarah adalah tokoh-tokoh perempuan dan generasi muda setempat. Bahkan sedapat mungkin dilibatkan pula kalangan dunia usaha yang bersedia mendukung pengembangan Desa Siaga dan kelestariannya (untuk itu diperlukan upaya advokasi).
Data serta temuan lain yang diperoleh pada saat SMD disajikan, utamanya adalah daftar masalah kesehatan, data potensi, serta harapan masyarakat. Hasil pendapatan tersebut dimusyawarahkan untuk penentuan prioritas, dukungan dan kontribusi apa yang dapat disumbangkan oleh masing-masing individu/institusi yang diwakilinya, serta langkah-langkah solusi untuk pengembangan Desa Siaga. Dalam hal ini, seyogianya masyarakat difasilitasi untuk sampai kepada kesimpulan tentang pentingnya hal-hal yang disebutkan sebagai kriteria Desa Siaga.

Pelaksanaan Kegiatan Desa Siaga

Secara operasional pembentukan Desa Siaga dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut:Pemilihan Pengurus dan Kader Desa Siaga, Pemilihan pengurus dan kader Desa Siaga dilakukan melalui pertemuan khusus para pimpinan formal desa dan tokoh masyarakat serta beberapa wakil masyarakat. Pemilihan dilakukan secara musyawarah & mufakat, sesuai dengan tata cara dan kriteria yang berlaku, dengan difasilitasi oleh Puskesmas.Orientasi/Pelatihan Kader Desa Siaga, Sebelum melaksanakan tugasnya, kepada pengelola dan kader desa yang telah ditetapkan perlu diberikan orientasi atau pelatihan. Orientasi/pelatihan dilaksanakan oleh Puskesmas sesuai dengan pedoman orientasi /pelatihan yang berlaku. Materi orientasi/pelatihan mencakup kegiatan yang akan dilaksanakan di desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga (sebagaimana telah dirumuskan dalam Rencana Operasional). Yaitu antara lain pengelolaan Desa Siaga secara umum, pembangunan dan pengelolaan palayanan kesehatan dasar seperti Poskesdes (jika diperlukan), pengelolaan UKBM, serta hal-hal lain seperti kehamilan dan persalinan sehat, Siap-Antar-Jaga, Keluarga Sadar Gizi, posyandu, kesehatan lingkungan, pencegahan penyakit menular, penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB-PLP), kegawat-daruratan sehari-hari, kesiapsiagaan bencana, kejadian luar biasa, warung obat desa (WOD), diversifikasikan pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan melalui Taman Obat Keluarga (TOGA), kegiatan surveilans, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan lain-lain.Pengembangan Pelayanan Kesehatan Dasar Dan UKBM, Dalam hal ini, pembangunan Poskesdes (jika diperlukan) bisa dikembangkan dari UKBM yang sudah ada, khususnya Polindes. Apabila tidak ada Polindes, maka perlu dibahas dan dicantumkan dalam rencana kerja pembangunan Poskesdes. Dengan demikian sudah diketahui bagaimana pelayanan kesehatan dasar tersebut akan diadakan, membangun baru dengan fasilitas dari Pemerintah, membangun baru dengan bantuan dari donatur, membangun baru dengan swadaya masyarakat, mengembangkan bangunan Polindes yang ada, atau memodifikasi bangunan lain yang ada. Bilamana Poskesdes Sudah berhasil diselenggarakan, kegiatan dilanjutkan dengan membentuk UKBM-UKBM yang diperlukan, dan belum ada di desa yang bersangkutan, atau merevitalisasi yang sudah ada tetapi kurang/tidak aktif.
Dengan telah adanya pelayanan kesehatan dasar dan UKBM serta terlatihnya kader dan terbentuknya Forum Desa Siaga, maka desa yang bersangkutan telah dapat ditetapkan sebagai Desa Siaga Aktif. Setelah Desa Siaga resmi dibentuk, dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan Desa Siaga secara rutin sesuai dengan kriteria Desa Siaga, yaitu pengembangan sistem surveilans berbasis masyarakat, pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana, penggalangan dana, pemberdayaan masyarakat menuju Kadarzi dan PHBS, serta penyehatan lingkungan.
Pelayanan kesehatan dasar melalui Poskesdes (bila ada), dan Pelayanan UKBM seperti Posyandu dan Lain-lain digiatkan dengan berpedoman kepada panduan yang berlaku.Kegiatan-kegiatan di Desa Siaga utamanya dilakukan oleh kader kesehatan yang dibantu tenaga kesehatan profesional (bidan, perawat, tenaga gizi, dan sanitarian). Secara berkala kegiatan Desa Siaga dibimbing dan dipantau oleh Puskesmas, yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk perencanaan dan pengembangan Desa Siaga selanjutnya secara lintas sektoral.

Pembinaan dan Peningkatan

Mengingat permasalahan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kinerja sektor lain, serta adanya keterbatasan sumberdaya, maka untuk memajukan Desa Siaga perlu adanya pengembangan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak. Perwujudan dari pengembangan jejaring Desa Siaga dapat dilakukan melalui Temu Jejaring UKBM secara internal di dalam desa sendiri atau Forum Komunikasi Desa Sehat dan atau Temu Jejaring antar Desa Siaga (minimal sekali dalam setahun). Upaya ini selain untuk memantapkan kerjasama, juga diharapkan dapat menyediakan wahana tukar-menukar pengalaman dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bersama. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pembinaan jejaring lintas sektor, khususnya dengan program-program pembangunan yang bersasaran desa.
Salah satu kunci keberhasilan dan kelestarian Desa Siaga adalah keaktifan para kader. Oleh karena itu, dalam rangka pembinaan perlu dikembangkan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan para kader agar tidak drop out. Kader-kader yang memiliki motivasi memuaskan kebutuhan sosial-psikologisnya harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kreativitasnya. Sedangkan kader-kader yang masih dibebani dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya, harus dibantu untuk memperoleh pendapatan tambahan, misalnya dengan pemberian gaji/intensif atau difasilitasi agar dapat berwirausaha.

Kamis, 17 Mei 2012

MOTTO JUANG DAERAH KOTA KUNINGAN

Kuningan ASRI ( Aman, Sehat, Rindang Indah )
  • AMAN
Situasi dan kondisi yang mantap dan dinamis dalam suatu lingkungan yang bebas hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar meliputi Aspek IPOLEKSSBUDHANKAM AGAMA.
  • SEHAT
Suatu kondisi yang baik dari segenap bagian badan ( jasmani maupun rohani ) beserta lingkungannya menuju kualitas hidup sehat dimana setiap orang mendambakannya.
  • RINDANG
Suatu kondisi rimbun daunnya yang dapat menimbulkan rasa teduh dan sejuk bagi lingkungan dan banyaknya cabang dan ranting.
  • INDAH
Adanya kepedulian untuk menaruh perhatian terhadap minat dalam mewujudkan kehendak sesuatu sehingga menjadi enak dipandang serta menimbulkan rasa kepuasan bagi yang melihatnya.

Taman Kota Kuningan

Jumat, 11 Mei 2012

Lagu Kota Kuningan

KUNINGAN ASRI


Walagri Kuningan ASRI
waluya rahayu nagri
sarakan tempat bumetah
aman, sehat, rindang, indah

Kuningan lumaku tandang
dangiang galura juang
hareupan udagan nanjung
nyangga pangwangunan

Linggarjati jadi ciri nu abadi
gunung Ciremai mayungan
galura na perjuangan

Kuningan alam nu endah
tempat wisata
Kuningan rapih winangun kertaraharja



Downloud lagu MP3 nya Disini..

Rabu, 09 Mei 2012

Jalur Maut Desa mandirancan

Jalur maut desa mandirancan merupakan jalur yang sering terjadi kecelakaan yang ada di jalan desa kami, jalur ini merupakan jalur antara kuningan ke majalengka, jalur ini di katakan jalur maut karena jalan di daerah sini sering terjadi kecelakaan mulai dari sepeda motor sampai angkutan umum, mobil pribadi sampai angkutan berat seperti, truk pembawa pasir,bata, dan ada juga truk pembawa semen yang sudah celaka dijalur ini, sampai seringnya terjadinya kecelakaan di daerah jalur/jalan ini penulis menamai jalur maut atau jalur angker, mengungkit tentang sejarah dulu ya di jalur ini,,
jalur ini merupakan jalur penghubung antara kabupaten kuningan dan majalengka, dan jalur ini merupakan jalur alternatif dari kuningan kemajalengka, jalur jalan ini merupakan jalanan yang menurun dari mulai perbatasan desa mandirancan dengan tajur dan di pas mulai depan SEKOLAH SMA 1 MANDIRANCAN jalur jalan ini mengalami turunan yang tajam dan sehabis turunan ada jembatan kali cipager yang merupakan saluran air dari gunung ciremai, dan mengalami belokan yang sangat tajam yang berbentuk huruf "S" sehingga si pengendara terkadang lepas kendali pada saat belokan tersebut, sehingga kendaraan sering terjatuh pada belokan tersebut.
Konon keangkeran di jalan ini juga sangat kental, sehingga penulis namakan jalur Maut, dari cerita orang tua/sesepuh didesa ini, menceritakan pada turunan tajam terkadang ada seekor harimau penunnggu disana, dan di setelah tikunan tajam ada seekor ular besar, dan dinamakan ular cilengkeng, bagi orang yang kadang-kadang melihat (keweneen ) kata orang sundannya seh, dan di jalur tersebut terkadang juga jalur/jalan tersebut membelah menjadi dua padahal jalur tersebut cuman satu, penulis menghimbau jikalau melewatu jalur tersebut berhati-hati dan jangan lupa membunyikan klakson, dan berdoa sehingga selamat karen setiap tahunnya pasti az ada yang jatuh di jalaur tersebut.
Segitu dulu cerita tentang di Desa penulis ya,,, semoga da manfaatnya... haturnuhun pisan jika ada yang mau membacanya... jagalah kondisi anda dan kendaraan anda jika akan bepergian dan jangan lupa membaca doa..

daan inilah photo-photo seketar jalan maut desa mandirancan ,, lansung az ke TKP !!!















Jumat, 27 April 2012

KUNINGAN

WEB RESMI KABUPATEN KUNINGAN

Sejarah Desa Kertawinangun

Sejarah Desa Kertawinangun







      Menurut sesepuh desa, orang pertama yang menginjakan kaki di desa Kertawinangun dan sekaligus sebagai pendiri Padepokan Winangun adalah Buyut Resep (pada pada masa itu belum mengenal nama desa akan tetapi masih sebutan Padepokan). Dia kemudian diangkat menjadi kuwu pertama di padepokan tersebut pada sekitar tahun 1408 M dan beliau memimpin Padepokan sampai tahun 1518 M.
      Selanjutnya, kepemimpinan Buyut Resep digantikan oleh Buyut Windu yang berasal dari Padepokan Luragung. Buyut Windu kemudian menjadi kuwu ke dua di Padepokan Winangun beliau memimpin Padepokan dari tahun 1518 M sampai wafat (meninggal) pada tahun 1585 M.
Setelah wafat, Buyut Windu digantikan oleh Ki Ageng Kertarasa alias Mangun Tapa yang berasal dari Cirebon. Masa kepemimpinan Ki Ageng Kertarasa sebagai kuwu ke tiga pada tahun 1585 M sampai tahun 1605 M,Pada masa kepemimpinan Ki Ageng Kertarasa awal mula dibukanya hubungan dengan Kasultanan Cirebon dibawah pimpinan Syech Syarif Hidayatullah (Sunang Gunungjati).Setelah wafat beliau digantikan
     oleh Ki Ageng Sumpena kemudian beliau memimpin Padepokan Winangun pada tahun1605M sampai tahun 1620 M. Selanjutnya kuwu ke lima ialah Ki Ageng Taruna yang memimpin Padepokan Winangun pada tahun 1620 M sampai tahun 1638 M.
        Setelah itu pada masa kolonialisme Belanda dan Jepang pada tahun1638 M sampai tahun 1945 M mulai diperkenalkan sebutan desa, Tepatnya pada tanggal 9 Desember 1739 Padepokan Winangun diganti menjadi Desa Induare. Sedangkan kuwu yang memimpin pada saat itu adalah Buyut Kertajaya yang berasal dari Padepokan Linggasana Cilimus pada tahun 1638 M sampai tahun 1742 M.
     Kepemimpinan kuwu ke tujuh yakni Buyut Sastra Sujatma, menjadi masa bersejarah bagi masyarakat Desa Induare. Hal ini karena pada tanggal 11 Desember 1946 (12 Rabiul Awal 1366 H) Desa Induare diganti nama menjadi Desa Kertawinangun entah dari mana kata Kertawinangun di ambil, yang jelas sanpai saat kini nama desa masih Desa Kertawinangun.
         Desa Kertawinangun Kecamatan Mandirancan kini berusia 271 tahun yang dirayakan pada hari Kamis 9 Desember 2010. Namun, sejak berdirinya desa Kertawinangun baru kali ini merayakan ulang tahun.
       Perayaan ulang tahun yang baru pertama dilaksanakan, menurut Kepala Desa, Bp.H. KARISA, diharapkan bisa menjadi renungan bagi seluruh komponen masyarakat desa Kertawinangun. Selain itu, bisa pula menjadi ajang untuk mewujudkan Desa Kertawinangun yang kertaraharja dan tetap jaya.
“Dari mulai berganti nama hingga sekarang, Desa Kertawinangun tetap aman dan damai. Masyarakatnya pun tetap agamis dan selalu menjaga budaya gotong-royong,”
       Desa Kertawinangun di kelilingi hamparan sawah yang luas yang hijau nan indah karna desa Kertawinangun terletak di kaki guning Ciremai.
     Kertawinangun adalah desa di kecamatan Mandirancan, Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.Iklimnya sejuk Masyarakatnya kebanyakan sebagai petani.Tetapi tidak banyak warga yang merantau ke Kota-kota besar seperti Cirebon, Bandung, Jakarta,Dll, Di Desa Kertawinangun memiliki dua SD (Sekolah Dasar) yang menjadi andalan desa. Jarak dari Desa Kertawinangun ke Kecamatan Mandirancan sekitar 3 (tiga) Km.Desa Kertawinangun memeiliki makanan khas yang beraneka ragam seperti Papais koci, Rangginang, rempeyek, keripik pisang, dan jenis keripik lainnya merupakan jenis makanan khas desa ini. Di Desa ini ada suber mata air yang potensi untuk dikembangkan sebagai obyek wisata namanya Cinduar.

Desa Kertawinangun
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Kuningan
Kecamatan Mandirancan
Luas : 153.201 Ha
Jumlah penduduk : L: 1356 orang/jiwa dan P: 1324 orang/jiwa jumlah keseluruhan : 2680orang/jiwa


MAKANAN KHAS


Kripik pisang

Emping melinjo

Rangginang

Opak ketan

Kueh satu

Papais koci



KESENIAN &BUDAYA KHAS DAERAH




Calung

Wayang golek

Genjring

Rudat



OBYEK WISATA


Curug Cinduare
Curug Hawu
Kolam renang Cinduare
Terapi ikan Cikotok
Curug Ciraweswes




sumber : Sejarah desa Kertawinagun klik disisni

Selasa, 10 April 2012

Lomba Desa Mandirancan

PUSKESMAS MANDIRI DI BLOK KLIWON DESA MANDIRANCAN










PASUKAN PENGAMANAN (HANSIP) DESA MANDIRANCAN